Sabtu, 13 Oktober 2012 0 komentar

POEM TO A SUNFLOWER


I see you there in glory shining bright,
Following the sun and its path of light.
Standing tall above all others in the field,
You grow, conquer, and do not yield
.
The little birds take great delight
In playing round you, from day to night.
With your petals of yellow and leaves of green
How very easily you are seen.
But there is more to you than first sight,
More than beauty and grander to delight.
Every beautiful aspect that appears,
Gives praise to the Father dear.
He made you a part of creation,
And you praise him in glorious celebration!
The beauty that within you is expressed,
Gives testimony to his greatness.
Sunflower, how I long to be like you!
Glorifying God in all I do.
Following the Son and His path of light,
To worship Him in His glory shining bright.
I can learn from you, my friend,
With every breath, praise to God, I might send.
With all of his creation telling the story,
Might I, with you, proclaim His glory.
~By Katherine R. Lane (April 19, 1995)~
0 komentar

Legenda Bunga Matahari


Langit senja mulai memerah di ufuk Barat. Semilir angin  berhembus lembut membuat hamparan bunga matahari yang tumbuh dengan  indah itu ikut meliuk-liuk pelan. Mahkota bunganya yang kuning menantang  menambah kesan elegan di bawah siraman sinar matahari senja.
Sambil memandang lepas ke arah hamparan bunga matahari di hadapannya,  Nenek memulai ceritanya. Cerita yang tidak akan pernah mungkin bisa  Ariel lupakan meski Nenek telah meninggalkannya hampir delapan tahun.
“Ariel  pernah dengar kisah tentang Legenda Bunga Matahari?” tanya Nenek  lembut. Angin senja memainkan rambutnya yang telah memutih di makan  usia.
Ariel menggeleng pelan, menatap neneknya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Di  desa Nenek, orang-orang, terutama para gadisnya mempercayai kisah  Legenda Bunga Matahari. Legenda Bunga Matahari menceritakan kisah  seorang gadis yang memiliki cinta yang setia.” Nenek menarik nafas lalu  menghembuskannya perlahan sebelum ia melanjutkan ceritanya. “Gadis itu  jatuh cinta pada seorang pria. Namun pria itu tidak pernah membalas  cintanya. Bukan karena dia tidak mau mencoba mencintai gadis itu, tetapi  karena dia tidak pernah tahu kalau gadis itu mencintainya. Namun gadis  itu sama sekali tidak pernah berhenti mencintai sang pria. Dia rela  melakukan apa saja demi pria itu. Membantu sebisanya apa yang dapat  dilakukannya demi pria itu meskipun hanya secara diam-diam. Begitulah  cara sang gadis mengungkapkan perasaannya pada pria itu sekian  lamanya…. Kemudian, ketika pria itu diketahui mengidap penyakit  mematikan, gadis itu sangat sedih. Dia kemudian memohon dalam setiap  doanya agar tidak merenggut nyawa pria yang amat dicintainya itu. Sekian  lamanya dia berdoa, sampai pada suatu malam, jawaban itu datang dalam  mimpinya.
“Gadis itu harus menanam 1000 kuntum bunga matahari  hanya dengan menggunakan kedua tangannya tepat di hari ulang tahunnya  yang ke-17. Satu kuntum diantaranya tidak akan tumbuh sempurna. Sekuntum  bunga itu hanya akan berupa kuncup dan tidak akan pernah mekar apabila  pria yang dia cintai tidak membalas cintanya. Jika pria itu berhasil  menyadari bahwa perasaannya pada gadis yang sangat mencintainya itu  adalah tulus dan mulai mencintainya sebelum ajal menjemputnya, maka  nyawa pria itu akan terselamatkan digantikan dengan nyawa gadis itu.  Namun jika pria itu tidak membalas cinta gadis itu sampai pada hari  kematiannya, maka kedua nyawa mereka akan direnggut bersamaan, dan 1000  kuntum bunga matahari itu akan mati layu seketika.”
Ariel mengerutkan keningnya.
“Nek, gadis itu bodoh ya?”
Nenek  tersenyum, katanya, “Gadis itu tidak bodoh. Dia hanya sangat mencintai  pria itu sampai rela mengorbankan nyawanya.” Kemudian ketika dilihatnya  Ariel tidak lagi memberi tanggapan, Nenek melanjutkan ceritanya.  “Beberapa hari kemudian, ketika dia seharusnya berbahagia untuk  merayakan ulang tahunnya yang ke-17, dia malah pergi menanam 1000 kuntum  bunga matahari di sebuah bukit sampai kedua tangannya menjadi lumpuh.  Dia berdoa sepanjang hari di perbukitan itu. Tidak peduli biar kian hari  tubuhnya kian melemah. Dengan penuh ketulusan dia berdoa, memohon  kesembuhan pria itu yang rela ditukarnya dengan nyawanya.”
Nenek membetulkan posisi duduknya, kemudian dihelanya nafas panjang.
“Selang  beberapa bulan kemudian, bunga matahari itu tumbuh dengan subur, mekar  indah dengan mahkota kuningnya yang indah. Sementara ada satu kuntum  dintaranya yang selalu berupa kuncup. Dan di lain pihak, keadaan pria  itu semakin memburuk. Ibu gadis itu memohon kepada putrinya untuk  menyudahi saja pengorbanannya yang sia-sia itu. Tapi gadis itu tetap  tidak pernah putus asa. Dia terus menerus berdoa dan memohon. Sampai  suatu hari, ketika ibu sang gadis tidak tahan lagi melihat putrinya yang  selalu menyiksa diri demi pria yang tidak  penah tahu demikian besarnya  cinta putrinya padanya itu, memutuskan untuk mengungkapkan semua  pengorbanan yang telah dilakukan putrinya kepadanya itu. Dia  menceritakan semua kejadian yang dialami putrinya kepada pria itu
>“Pria  itu tersentuh atas ketulusan cinta gadis itu. Dengan tubuhnya yang  sudah sangat lemah karena digerogoti penyakit, dia mencoba menemui gadis  itu. Saat dia melihat betapa sungguh-sungguhnya gadis itu berdoa  memohon kesembuhannya, terbit suatu perasaan dalam hatinya. Dia  merasakan suatu kehangatan yang berbeda dari yang pernah dirasakannya  selama ini. Ironis, karena beberapa detik berselang, sekuntum bunga  matahari yang senantiasa dalam kuncup itu, mekar dengan indahnya.  Warnanya paling indah diantara 999 kuntum bunga matahari lainnya. Namun  sayangnya, belum sempat gadis itu menyadari bahwa perasaan cintanya  selama ini telah mendapat balasan dari pria itu, Malaikat Maut telah  merenggut nafasnya.”
“Gadis itu meninggal, Nek?” Ariel menatap Neneknya dengan mata berkaca-kaca.
Nenek menggangguk pelan.
“Ya,  gadis itu meninggal. Setelah gadis itu meninggal, perlahan-lahan  penyakit pria itu membaik. Dia sangat bersedih karena tidak pernah  menyadari perasaan gadis itu. Karena itulah, dia memakamkan gadis itu di  antara 1000 kuntum bunga matahari yang ditanam gadis itu… dan  mengenang gadis itu seumur hidupnya.”
“Pria itu cinta nggak sama gadis itu?”
“Tentu saja…” Nenek mengangguk. Dipandanginya Ariel dengan penuh kasih. “Ariel suka kisah ini nggak?”
Ariel mengangguk cepat dan secepat itu pula dia kemudian menggeleng.
“Tapi Ariel nggak suka gadis itu meninggal…”
“Nenek juga tidak.” Nenek mengangguk lagi, menyetujui pendapat cucunya. “Tapi ini kan cuma legenda.”
“Nek,  kalau Ariel sudah besar nanti, kalau Ariel suka sama seseorang, Ariel  nggak akan diam aja. Ariel mau orang itu tahu kalau Ariel suka sama dia.  Ariel nggak mau kayak gadis itu.”
Nenek mengusap pipi Ariel dengan lembut. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
“Nek, Nenek tanam bunga matahari nggak buat Kakek?”
“Iya,  tapi tidak 1000 kuntum seperti dalam legenda.” Nenek tersenyum lembut.  “Dan Nenek tidak menanamya sendirian. Nenek menanamnya bersama Kakek.”
“Kenapa? Apa karena cerita di dalam legenda itu berakhir tragis?”
“Bukan.  Karena Nenek jauh lebih beruntung dari pada gadis itu. Kakek tahu kalau  Nenek mencintainya. Nenek juga tahu kalau Kakek mencintai Nenek. Jadi,  Nenek tidak perlu menanam 1000 kuntum bunga matahari seperti dalam kisah  itu buat membuktikan perasaan Nenek.
“Nenek juga tidak tahu,  kisah ini benar-benar nyata atau tidak. Tetapi yang jelas, Nenek sangat  menghargai pengorbanan gadis itu untuk cintanya.”
“Nek, Nenek sayang nggak sama Kakek?”
Nenek tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum paling indah yang  pernah Ariel lihat di wajah neneknya selama ini. Dan Ariel sama sekali  tidak perlu bertanya sekali lagi dan meminta Nenek mengartikan  senyumannya itu.
“Nek, waktu Kakek meninggal, Nenek sedih nggak?”
“Sedih…”  jawab Nenek sabar. “Tetapi kematian kan bukan manusia yang mengatur.  Manusia adalah milik Tuhan. Cepat atau lambat, pada akhirnya manusia  juga akan tetap kembali kepada Tuhan.”
“Jadi sekarang Nenek nggak sedih lagi? Biar Kakek sudah nggak bisa sama-sama Nenek lagi?”
Nenek  menggeleng, ditatapnya mata Ariel dalam-dalam. “Semua bunga matahari  ini adalah pengganti Kakek. Orang lain mungkin  nggak menyadarinya,  karena cuma Nenek yang tahu arti bunga matahari ini dalam hidup Nenek  dan Kakek.”
“Memangnya apa arti bunga matahari bagi Kakek?”
“Ketika  Kakek tahu hidupnya tidak akan lama lagi, Kakek bilang, Kakek ingin  sekali jadi bunga matahari. Ariel tahu kenapa? Karena Kakek bilang,  bunga matahari seperti mengajarkan ketegaran dalam hidup. Mengajarkan  bahwa kita harus selalu mendongakkan kepala menatap Sang Mentari,  menyongsong hari esok, seberat apa pun perkara hidup yang kita hadapi  dalam hidup kita.
“Karena itulah, Nenek tidak sedih lagi ketika  Kakek meninggal. Lagipula, Kakek sebenarnya tidak pernah sekali pun  meninggalkan Nenek. Kakek selalu bersama-sama dengan Nenek. Karena Kakek  selalu hidup di sini…” Nenek menunjuk dadanya. “Kakek senantiasa  hidup di hati Nenek, asalkan Nenek tidak akan pernah melupakannya.”
Ariel merangkul neneknya dengan penuh kasih sayang.
“Suatu  hari nanti, Ariel juga mau menanam bunga matahari. Biar Ariel bisa  menemukan orang yang Ariel sayangi. Selain itu, Ariel juga mau belajar  seperti Kakek yang selalu berani menyongsong hari depan biar seberat  apapun masalah yang Ariel hadapi.”
Nenek tersenyum dan mengecup  kening Ariel dengan penuh kasih sayang. Lambat-lambat air mata menitik  dari kedua sudut matanya, mengalir membasahi pipinya yang dipenuhi  banyak kerutan. Namun senyum belum hilang dari wajahnya yang berlumur  keletihan. Senyum yang penuh  kehangatan dan cinta kasih.
Ariel  tahu senyum itulah yang senantiasa terukir di wajah Nenek sampai selang  seminggu kemudian Nenek meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Ariel  tidak menangis. Karena dia percaya apa yang pernah dikatakan Nenek  kepadanya saat itu. Dia tidak akan pernah kehilangan Nenek. Nenek cuma  tidak bisa lagi dilihat langsung olehnya, tetapi Nenek akan senantiasa  tetap hidup di dalam hatinya asalkan dia tidak pernah melupakan Nenek.
Tatkala  menghadiri upacara pemakaman Nenek, Ariel semakin merasakan seberapa  besar cinta Nenek pada Kakek, karena Nenek dimakamkan tepat di samping  makam Kakek dengan hamparan bunga matahari di sekeliling makam mereka  sebagai pelambang cinta mereka yang tidak akan pernah usai meski maut  jadi pemisah….
0 komentar

KISAH BUNGA MATAHARI

Sekuntum bunga matahari tumbuh di antara sampah-sampah dan barang-barang bekas. Bunga matahari itu begitu sedih karena tidak tumbuh di taman yang indah, bersih dan luas seperti teman-temannya yang lain. Di tempat pembuangan sampah dan barang-barang bekas tersebut, tidak ada orang yang dapat menikmati keindahannya, juga tidak ada kupu-kupu yang hinggap di atasnya. Bunga matahari tersebut selalu bersedih jika memikirkan nasibnya. 

Di suatu pagi yang cerah, seekor burung datang dan hinggap di sebuah dahan pohon persis di samping bunga matahari. "Hai, kamu kelihatan sangat cantik," kata burung itu. " Tidak, saya ini jelek. Lihatlah teman-teman saya yang kelihatan jauh lebih anggun karena tumbuh di taman yang bersih dan terawat. Mereka jauh kebih tinggi dan bunganya jauh lebih indah," Jawab Bunga Matahari sedih. "Tidak menurut saya kamu jauh lebih cantik," kata burung itu. "Tidak, saya ini jelek. Lihatlah teman-teman saya yang jauh lebih anggun karena tumbuh di taman yang bersih dan terawat. Mereka jauh lebih tinggi dan bunganya juga jauh lebih indah," jawab bunga matahari sedih. "Tidak, menurut saya kamu jauh lebih cantik," kata burung itu lagi. 

Setelah itu ia terbang meninggalkan bunga matahari. Sejak hari itu burung itu selalu datang mengunjungi bunga matahari dan merekapun menjadi sahabat. Hari demi hari bunga itu memperlihatkan banyak perubahan : warnanya semakin cerah, ia semakin tinggi dan subur. Tetapi beberapa hari kemudian, burung tersebut tidak lagi datang menemui bunga matahari. Bunga matahari menjadi cemas, apakah yang sedang terjadi terhadap burung itu. 

Keesokan paginya, bunga matahari melihat burung itu diam tak berdaya di bawahnya. "Beberapa hari ini saya tidak mendapatkan makanan dan kini saya sangat lemah. Saya datang ke sini agar mati di dekatmu," kata burung itu. "Jangan, jangan, kamu tidak boleh mati," teriak bunga matahari. Setelah itu bunga matahari menundukkan kelopak bunganya dan biji-biji bunganya berjatuhan ke bawah. Dengan tenaga yang masih tersisa, burung itu mematuk biji bunga matahari dan memakannya. Iapun kembali mendapatkan tenaga yang baru. 

Keesokan paginya ia hendak berterima kasih kepada bunga matahari, tetapi betapa kagetnya ia ketika melihat kelopak bunga matahari itu telah rontok. " Jangan pikirkan saya, sudah saatnya saya untuk mati. Dulu saya mengira bahwa keberadaan saya di sini tidak berguna, namun sekarang saya menyadari bahwa ALLAH pasti punya maksud untuk segala sesuatunya. Saya sadar hidup saya begitu berarti. Kamu sudah menyadarkan saya bahwa hidup saya sangat berarti," Kata bunga matahari. 

Seperti bunga matahari, mungkin terkadang kita merasa hidup kita tidak berharga, namun ingatlah satu hal bahwa ALLAH punya maksud untuk hidup kita. Dia tidak pernah kenciptakan sesuatu dengan sia-sia. Temukan dan lakukan sesuatu yang akan memberkati hidup orang lain, dengan demikian hidup kita akan lebih berarti.
0 komentar

Cerita bunga matahari (Anggita Devi)


Setiap bunga yang mekar pasti akan berkembang lalu layu. Bunga matahariku warnanya kuning terang. Bunga matahariku akan mulai redup kali ini. Namun masih banyak bunga matahari yang tumbuh berkembang dan layu milik gadis-gadis kecil itu, sampai dunia tutup usia.
Mengapa bunga itu tanpa nama, lalu orang menamakannya si bunga matahari? Konon, matahari ingin mencari teman setia yang bisa menemaninya kala siang dan redup kala malam.
Setitik benih suci bewarna tak berwarna menghampiri dan menyapa matahari di ufuk timur, dan ia berkata “Hai Matahariku, aku dengar kau sedang mencari teman? bukankah kau punya banyak teman di galaksi bimasakti ini?” sapanya sambil tersenyum.
“Ah, mereka itu kan sibuk dengan edaran planet dan kometnya… lagipula aku punya teman yang lebih besar dari aku. suatu saat, aku akan dimakan matahari yang lain karena dayaku akan habis” Ujar matahari sambil tersenyum ceria.
“Oh, begitukah? kalau begitu, teman seperti apa yang kau cari matahariku?” Ujar benih itu berharap.
“Aku mencari teman di planet bumi, teman kecilku bicara saat aku terang. Kau tau, aku tak pernah tidur atas kuasa Illahi.. makanya aku cari teman bicara” terang matahari.
“Kalau begitu, aku mau jadi temanmu” pinta si benih kecil.
“Oh ya? kamu begitu kecil teman, mana ada yang tahan bicara denganku setiap saat? aku begitu panas dan bisa membuat siapun mencair dan berpeluh… lihat kau begitu kecil, bagaimana jadinya bila kau berjemur di depan diriku setiap hari setiap waktu?”
“Dengar matahari, entah mengapa, begitu aku lahir di dunia ini… sepertinya Tuhan memintaku untuk mencintaimu” Benih kecil itu tertawa ceria.
�Memangnya kau sudah tanya pada Tuhan?�
�Aku sudah tanyakan pada-NYA, bolehkah aku menjadi pendampingmu kala bersinar semenit lalu. Lalu IA bilang boleh-boleh saja�
�Coba kutanyakan pada-NYA� lalu matahari pergi seharian bertanya pada ILLAHI meninggalkan si benih yang penuh dengan harapan.
Matahari pun akhirnya datang dan bersinar, si benih kecilpun berseri-seri.
�Bagaimana tadi? Bolehkan? Demi Alloh, aku sudah bertanya padanya… tapi kau tak percaya padaku, jangan-jangan kau bujuk TUHAN supaya aku tak jadi pendampingmu� Benih kecil cerewet bukan main. Mataharipun tertawa.
�Baik, kau boleh berteman denganku… Tuhan mengijinkan engkau… mulai saat ini, kau jadi kekasihku� matahari ikut senang.
�Apa kau tanya pada Tuhan, aku akan jadi pohon apa?�
�Kau mau tau? Kau akan jadi bunga si matahari, kau akan menemaniku sepanjang hari, bicara padaku dan tak berpaling dariku sedetikpun ketika bicara padaku… apa kau kuat kekasihku?�
�Aku kuat duhai kekasih baruku, mulai saat ini… aku akan selalu menemanimu kemanapun kau berputar seperti bulan yang setia pada ibuku si bumi� ujar benih itu senang.
�Kalau begitu, mulai sekarang biarlah orang tahu kalau kau kekasihku… maka itu kau akan kupanggil bunga matahari, kekasihku� ujar matahari lembut.
Putik dan Serbuk bertemu menghasilkan benih-benih baru bunga matahari. Warnanya kecoklatan, si hamster kecil pun lahap memakan bijih bunga matahari. Rasanya gurih mencerminkan keceriaan milik kekasih matahari. Itu mengapa bunga matahari mengikuti arah matahari, dari pagi hingga sore lalu layu. Namun tak lantas kelayuan itu meruntuhkan akar dan batangnya. Mati satu tumbuh seribu, sangat indah kekasih-kekasih matahari di kebun milikku.
Bunga matahari mencerminkan setiap individu yang setia pada pasangan hidupnya. Diri ini ingin seperti bunga matahari, setiap orang ingin seperti bunga matahari, tak terkecuali selebriti. Namun, dapatkah cinta kita semurni dan sekuat bunga matahari yang tetap semangat walaupun ditengah terik matahari?
Aku akan melayu, melayu seperti bunga � bunga itu. Seseorang pernah berkata, kecantikan akan termakan usia. Tapi tidak dengan pikiran kita. Banyak menyesalkan kecantikan luar dan dalamku tak tereksplor dengan baik. Aku seharusnya menjajal selebritas… ah, memang asik kelihatannya, tapi aku sangat tidak gila dengan popularitas fanatisme manusia moderen ini.
Sedikit aku menyesal, namun aku masih bisa bertahan karena masih bisa mensyukuri aku bukan tidur di trotoar dan pinggir jalan ataupun kardus-kardus kumal nan kusam.
Pepatah pernah berkata, popularitas yang baik akan timbul atas kuasa Illahi. Biarlah popularitas itu tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa harus materi semata. Muhammad SAW, Musashi Miyamoto, Tsun Zu, Toyotomi Hideyoshi, Sallahuddin, Johann Sebastian Bach, Isaac Newton, Gallileo Gallilei…. mereka terkenal bukan mau mereka. Tapi mereka terkenal atas kontribusi mereka pada dunia. Mereka tak butuh popularitas, yang mereka butuhkan hanya bagaimana agar karya ajaib mereka dapat digunakan, setidaknya bagi orang sekeliling mereka meskipun banyak mengorbankan banyak jiwa dan setidaknya bagaimana merubah hal yang buruk menjadi lebih baik lagi. Itulah popularitas mereka… Popularitas yang abadi seperti cinta bunga matahari pada matahari, seperti cinta abadi ILLAHI pada umatnya….
Jumat, 12 Oktober 2012 0 komentar

Sampaikan Salamku Untuk bunga Matahari


Sampaikan Salamku untuk Bunga Matahari

Sebelum ia dibangunkan oleh Sang Mentari
Sebelum satu demi satu kelopaknyamekar ceria mengikuti sinar
Sebelum terang membelai helai-helai daunnya
Sebelum hangat menyentuh kuning emasnya…

Sampaikan salamku untuk bunga 
matahari
Setelah ia tegak menjulang di hijaunya padang rumput
Setelah ia kuat berdiri di tengah tiupan angin
Setelah ia mampu memberi kehidupan pada lebah-lebah kecil

Sampaikan salamku untuk bunga matahari
Setelah ia bertemu sepasang kekasih
Setelah ia mengurai senyum di wajah cantik sang perempuan
Setelah ia dipetik oleh tangan-tangan bahagia untuk menyebarkan 
cinta

Sampaikan salamku untuk bunga matahari
Sebelum mentari terbit menggantikan diriku
Sebelum tidak ada lagi dinginnya 
malam
Sebelum gelap ini habis…
Katakan padanya…Ada terang saat ia terlelap..

Mosmarth
 
;